Mahasiswa, Kampus dan Persoalan Kerakyatan

Mahasiswa selalu menjadi bagian dari perjalanan sebuah bangsa. Roda sejarah demokrasi selalu menyertakan mahasiswa sebagai pelopor, penggerak, bahkan sebagai pengambil keputusan. Hal tersebut telah terjadi di berbagai negara di dunia, baik di Timur maupun di Barat. Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa. Suara-suara mahasiswa kerap kali merepresentasikan dan mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat. Sikap idealisme mendorong mahasiswa untuk memperjuangkan sebuah aspirasi pada penguasa, dengan cara mereka sendiri. Misalnya, runtuhnya orde lama dan Orde Baru serta lahirnya reformasi tidak terlepas dari peran mahasiswa.

Kedudukan mahasiswa sebagai mekanisma kawalan, bermaksud sebagai pengimbang kepada kekuasaan yang ada pada pemerintah. Tugas tersebut, idealnya memang dilakukan oleh partai politik, namun sayang hal itu tidak berlaku, bahkan dimandulkan oleh kekuasaan yang tidak mengenal apa yang dikatakan “kritikan”. Dalam konteks itulah, letak peranan mahasiswa sebagai agent of social control serta sebagai agent of change.

Namun disayangkan gerakan mahasiswa sekarang seperti tidak mempunyai visi yang jelas serta kehilangan konsep. itu semua dimungkinkan karena kesadaran mahasiswa akan suatu gerakan belum sepenuhnya terbuka, dan bahkan cenderung bersifat euforia. Hanya beberapa mahasiswa saja, yang benar-benar konsisten serta matang dalam menggagas gerakan pembaharuan.

Kalau kita bandingkan mahasiswa sekarang dengan mahasiswa dahulu, sangatlah jauh berbeda, semangat juang terus digerakkan oleh pemimpin-pemimpin mahasiswa waktu itu, setiap saat melakukan penyadaran terhadap rakyat dan berhasil menjadi beberapa orang pemimpin ternama hari ini.

Bandingkan hal tersebut dengan mahasiswa sekarang, yang mengalami degradasi, baik dari segi intelektualisme, idealisme, patriotisme, maupun jati diri mereka. Mahasiswa sekarang, cenderung apatis, hedonis dan pragmatis, bagaimana memimpin rakyat, memikirkan persoalan kerakyatan dan melakukan penyadaran-penyadaran sosial sedangkan mereka sendiri tidak sadar dengan peran dan fungsinya.

Menurut saya ada beberapa persoalan yang memungkinkan terjadinya hal tersebut, Pertama, pengaruh budaya luar yang tidak tersekat meluncur deras melalui banyak media seperti televisi dan internet, telah banyak meracuni pemuda dan mahasiswa yang dengan mudahnya meniru budaya asing tersebut tanpa kontrol hanya agar bisa disebut gaul dan updater, gaya hidup konsumtif dan hedonis seperti berburu barang-barang import dan gajet terbaru, berpesta-pesta dan menghabiskan waktunya kepada hal-hal yang tidak bermanfaat seperti telah menjadi tradisi.

Kedua, adanya pengaruh dari sistem pendidikan yang membentuk mentalitas yang buruk bagi mahasiswa, mulai dari sekolah dasar kita telah dijejali dengan ilmu yang bersifat dogma sampai perguruan tinggi pun kita masih dijejali dengan dogma dan teori-teori yang seperti tidak dapat di kritisi lagi, sehingga mahasiswa sekarang jarang sekali mampu mengeluarkan teori baru untuk menjawab suatu permasalahan, mereka hanya berkutat dan berkiblat ke dalam teori atau dogma-dogma yang ada.

Ketiga, kampus juga tak ayalnya seperti penjara dengan program pengetatan kurikulum dan pengawasan yang ketat terhadap gerak mahasiswa untuk mengekspresikan idealismenya, sehingga aksi mereka hanya berkutat dalam perdebatan kritis di bilik-bilik kuliah saja. Kondisi ini memberikan andil besar terhadap hancurnya daya kontribusi mahasiswa terhadap persoalan-persoalan kerakyatan dan kebangsaan.

Dari ketiga hal diatas, akhirnya yang terjadi Mahasiswa yang kehilangan jati diri kebangsaan, tak kritis serta berfikir secara penuh mengenai hal-hal akademis semata, seperti bagaimana meningkatkan IPK, cepat lulus dan dapat kerja. Taktik ini menurut saya secara sistematis akan membunuh mahasiswa untuk memikirkan soal-soal kerakyatan, soal negara dan bangsa.

Melihat fenomena tersebut, maka sudah sepantasnya orang yang konsen dalam masalah pemuda dan pendidikan merasa perihatin dan mendorong serta membuat cara mengembalikan ruh jati diri mahasiswa, yang salah satu jalan alternatif untuk itu adalah dengan menghadapkan kembali mahasiswa pada persoalan-persoalan kerakyatan dan kebangsaan secara langsung. Hal ini sebenarnya bisa dijalankan dari mulai tataran kampus juga dengan membuka ruang dan dukungan bagi mahasiwa untuk berekspresi dan berkontribusi dalam persoalan kerakyatan dan kebangsaan sebagai bagian dari fungsi unversitas sebagai fungsi pengabdian masyarakat, namun pengabdian ini tidak hanya terbatas pada simbol, tetapi benar-benar real di dalam aplikasinya. Hal itu, dimaksudkan untuk menolak pandangan kampus sebagai menara gading. Dengan begitu, idealisme serta daya kritis mahasiswa yang terasa hilang akan dapat dikembalikan dan dipertahankan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s