KOMA SEBELUM TITIK (Sebuah Kisah Berhadapan dengan Maut)

Dunia ini ada karena Dia. Sangkar ini ada karena Dia. Jiwa kita terperangkap karena Dia. Lalu, pada suatu ketika jika terbebaskan, itu karena Dia. Setiap orang yang mengetahui hal ini sesungguhnya telah dibisiki oleh Allah” (Jalaluddin Rumi)

Itulah kata-kata seorang sufisme terkenal asal mesir Jalaluddin Rumi yang dikutip dari sebuah buku yang berjudul Masnawi, bersama Jalaludin Rumi menggapai langit biru tak terbingkai. Petikan kalimat diatas cukup menggambarkan sebuah kisah yang ingin saya tuturkan.

Ini cerita pengalaman saya ketika mengalami sakit parah selama dua bulanantara bulan November sampai Desember di tahun 2006, dipertengahan bulan ke-2 saya mengalami koma tidak lama hanya tiga hari namun berkesan.

Cerita ini dimulai dari sebelum koma, pada saat itu saya mengalami kejadian yang sangat luar biasa tapi menyiksa. Mungkin karena parahnya penyakit yang dialami, saya merasa tubuh ditusuk-tusuk oleh beribu-ribu jarum dan merasa diremas-remas oleh kekuatan yang maha dahsyat sehingga akhirnya saya tak sanggup lagi menahan rasa sakit yang ditimbulkan sehingga saya mengalami pelepasan ruh, kenapa saya mengatakan pelepasan ruh karena saya merasa sesuatu lepas dan melayang dari tubuh saya sendiri, ketika membuka mata tenyata saya sendirilah yang melayang meninggalkan raga. Ketika proses melayang tersebut saya masih sempat menoleh ke bawah melihat keluarga yang ada disekitar ranjang menangis, setelah itu saya tak tahu lagi keadaan disana. Kejadian tadi sejalan dengan apa yang diutarakan Nabi Muhammad, bahwa proses kematian itu sangat menyakitkan, Nabi pernah melukiskan bahwa proses kematian itu digambarkan seperti kita ditusuk oleh seribu pedang. Makanya yang berniat mau bunuh diri, pikir-pikir lagi untuk melakukannya. Namun memang kadar penderitaan ketika pelepasan ruh setiap orang berbeda-berbeda sesuai dengan amal ibadahnya.

Saya lanjutkan cerita saya. Setelah proses penderitaan dan pelepasan tadi, saya merasakan pengalaman yang sangat fantastik, yakni saya merasakan kebebasan yang sangat luar biasa sekali, ketenangan dan ketentaraman yang begitu mendamaikan, diri saya merasa ringan sekali seperti tak ada beban. Saya berada di alam yang sangat cepat sekali mobilisasinya, kalau dihitung secara ilmu fisika mungkin kecepatannya menggunakan kecepatan cahaya. Karena pada waktu itu hanya dengan mengedipkan mata saya bisa bepergian kemanapun, sampai-sampai saya bisa menembus kemasa depan melihat banyak peristiwa, tetapi saat itu saya tidak tahu apakah itu masa depan atau bukan. Namun penglihatan peristiwa-peristiwa tersebut dikemudian hari terbukti kebenarannya. Keadaan di alam sejalan dengan teorinya Einstein tentang kecepatan (konstan n) bahwa kecepatan yang paling cepat adalah kecepatan cahaya, sehingga kata Einstein apabila tekhnologi manusia sudah sampai pada titik ini, manusia bisa mengelilingi jagat raya dalam waktu singkat atau bisa saja menembus lorong waktu. Selain itu kejadian di alami saya itu semakin mempertebal keyakinan kebenaran mengenai kekuasaan Allah atas segala hal, salah satunya peristiwa Isra’ dan Mi’rajnya nabi Muhammad dari mekkah ke masjid Al-aqsha di palestina dan diteruskan ke Sidratul Muntaha (ke langit ke-7) hanya dalam waktu satu malam saja. Subhanallah.

Mungkin muncul dibenak pembaca, lantas alam yang saya kunjungi ini termasuk alam apa?. Kalau menurut saya, alam ini termasuk alam transisi tetapi bukan termasuk alam arwah. Karena ternyata dalam alam ini saya masih dapat merasakan keterhubungan dengan alam dunia, terbukti sesekali masih terdengarnya doa-doa yang begitu menggema. Dan doa yang terdahyat doa yang dikumandangkan oleh Ibu saya yang mampu menyadarkan saya bahwa ini bukan alam saya atau belum saatnya saya disini begitu gumam hati saya, kemudian seperti ada alat vacuum cleaner yang menyedot diri saya dan kejadian berikutnya seperti terbangun dari mimpi, saya membuka mata dan sedang dikelililingi oleh orang-orang yang saya tidak kenal yang sedang menangis. Itu cukup mengejutkan saya karena saya seperti bayi yang baru dilahirkan dan tak tahu apa-apa, untuk beberapa saat saya mencoba untuk mengingat kejadian atau nama-nama yang mungkin saya kenal, baru beberapa saat dalam memori saya muncul nama dari sesosok perempuan mulia yang sangat saya cintai dan sangat saya hormati yaitu ibu saya, sang calon penghuni syurga yang dengan cucuran air matanya memeluk dan kelihatan meyakinkan dirinya bahwa saya sudah sadar.

Kejadian kembalinya “kesadaran” saya ini persis seperti apa yang kemukakan Plato seorang filusuf yunani kuno tentang dunia ide dan alam materi, menurutnya bahwa kita berasal dari dunia Ide/ideal/sempurna dengan telah diberi berbagai pengetahuan, tetapi karena ruh kita diturunkan ke alam materi yang serba terbatas dan tak sempurna, sehingga ruh kita terperangkap/terpenjara dan mengalami proses pelupaan. Untuk mengingat kembali pengetahuan-pengetahun dari dunia ide seseorang harus melakukan refleksi/perenungan/mengingat kembali. Pendapat ini plato ini persis seperti yang saya alami, saya pun mengalami proses pelupaan sampai-sampai untuk beberapa hari keluarga banyak menceritakan peristiwa-peristiwa selama 2 bulan terakhir atau peristiwa-peristiwa sebelumnya atau sekedar mengenalkan nama orang-orang yang tak mampu saya ingat. Dan lambat laun ingatan saya kembali seperti semula begitu juga ingatan ketika berada di alam transisi.

Semoga cerita ini bermanfaat bagi yang membaca sebagai pengetahuan dan inspirasi atau hanya sekedar dongeng belaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s